
Pemain Singapura Merayakan Gol ke Gawang Indonesia
Baru saja gagal di Grand Royal Cup di Myanmar dengan dikalahkan 2 kali oleh Myanmar, kini Indonesai harus kembali menelan kekalahan yang ke 4 kalinya atas Singapura di ajang AFF (dahulu Piala Tiger).
Kalah dari Myanmar di Grand Royal Cup, sungguh menyesakkan. Betapa tidak, Myanmar tidak memiliki Liga Domestik sebagus kita, kalaupun punya mungkin tidak jelas di tengah situasi politik yang panas. Harusnya kita juara pada event itu. Kita sebagai penggemar dan pendukung Tim Nas Indonesia, rasanya sudah cukup lama bersabar puasa gelar. Jangankan Piala Asia, apalagi Piala Dunia (mimpi kali yee…), wong Sea Games aja sudah lama sekali tidak juara, bahkan AFF CUP belum pernah sekalipun. Liga Indonesia sudah bergulir lebih dari 10 tahun. Bahkan ada Liga Super sekarang, tapi prestasinya bak jalan di tempat. Baik itu Tim Nas, maupun juara Liga Indonesia juga tidak bisa bersaing di kancah yang lebih tinggi. Juara Liga Indonesia harusnya mampu berbicara banyak di Liga Champion Asia, tapi apa, cuma jadi pelengkap penderita, meskipun sudah pakai pemain asing, hasilnya sama saja, jadi lumbung gol buat lawan. Gak usah membandingkan dengan Jepang atau Korea Selatan, atau Negara Timur Tengah lainnya, sekarang di kawasan Asia Tenggara aja Tim Nas sudah susah bersaing. Ada Thailand, Vietnam dan sekarang Singapura. Jangan terlena pada masa lalu, pernah menahan imbang Uni Soviet dll. Dari dulu itu saja yang dikenang, dulu sudah tidak bisa jadi ukuran lagi Bung, kondisi sekarang sudah banyak berubah. Thailand masih stabil sebagai macan Asia Tenggara. Klubnya juga pernah juara Liga Champions Asia di era 90an (Thaifarmers Bank). Lha kita, katanya liganya paling top se Asia Tenggara, tapi lawan Myanmar aja kalah (memang kita berhasil membalas di Piala AFF di Jakarta). Mending gak usah ada Liga Indonesia, kalo ujung-ujungnya prestasi Tim Nas gak ada. Bukankah muara dari Liga adalah pembentukan Tim Nas yang kuat.? Jepang membuat J-League, tidak usah lama menunggu, Tim Nas Jepang sudah bisa menjuarai Piala Asia, dan masuk ke Piala Dunia.
Kami ini sudah tidak bisa bersabar lagi, prestasi adalah HARGA MATI. Tolong itu dicatet oleh Bapak-bapak di PSSI. Kalo Liga Indonesia memang tidak bisa menelorkan prestasi mungkin harus di kaji ulang. Berapa duit yang sudah dihamburkan untuk memutar Liga gak jelas ini. Beberapa klub bahkan memakai dana APBD, yang notabene itu uang rakyat, apa gak konyol. Memang sekarang sudah dilarang, tapi tetap aja di”akalin” gimana caranya sehingga duit APBD tetep bisa keluar. Belum lagi uang yang buat membayar gaji pemain asing, berapa jumlahnya, apa kontribusinya buat pemain lokal ?
Kembali lagi, muara dari Liga adalah pembentukan Tim Nas yang tangguh. Kalo sudah lebih 10 tahun liga gak beres juga, mending gak usah ada liga.
Sekarang ada kekuatan baru, namanya Singapura. Memang negara ini pake jurus instan dengan naturalisasi sekitar 7 pemain dari luar. Apakah kita mau meniru ? Tapi prestasi 2 kali juara Piala AFF adalah bukti nyata, meski kita masih bisa mencibirnya. Tapi bukan hanya mencibir, harusnya bisa memberi bukti kepada mereka, bahwa kekuatan lokal pun mampu mengalahkan mereka.
Oalah, kapan mau berprestasi ?
Saya sedih…





