Tulisan ini sengaja saya buat bukan untuk menghujat Kota Banjarmasin, kota yang saya tinggali saat ini. Ini cuma sebagai bentuk keprihatinan dan kepedulian saya terhadap kota ini. Meski saya pendatang, tapi rasanya risih juga tiap hari menyaksikan (mengalami) ketidaknyamanan serta keanehan dan kesemrawutan lainnya.
1. Jl. Ujung Murung
Ada satu yang aneh diantara banyak keanehan di jalan ini. Banyak saluran air mengarah ke arah jalan raya, sehingga kalo pas hujan, anda harus berhati-hati. Bisa2 anda kena guyur air dari lantai 2 dan lantai3 bangunan di sebelah kanan jalan. Kalo tidak percaya, silakan buktikan dari arah Metro City (yg sudah almarhum), dan setelah belokan ke kanan, silakan tengok ke atas. Saya heran, kok bangunan kayak gitu bisa diijinkan berdiri ya…. dan anehnya hal ini sudah berlangsung lama dan TIDAK ada perubahan dari dulu. Halo dinas terkait, kada wani menagurkah pian ? Maka pian ini yang paling berwenang.
2. Jl. Pangeran Samudera
Dulu lahan parkir di jalan ini seperti tambang emas dan jadi rebutan untuk pengelolaannya. Betapa tidak, tarif parkirnya bisa melonjak, bahkan pada jam sibuk bisa dihitung perjam. Lucunya bisa lebih mahal dari parkir yang dikelola Sun Parking atau yang sejenisnya. Sekitar setahun yang lalu dishub memberlakukan larangan parkir pada waktu tertentu (06.00 – 16.00 Wita) di aera ini. Salah satu korbannya adalah sebuah mini market di jalan ini. Karena tidak boleh parkir pada siang hari, akhirnya minimarket ini ditinggalkan pembelinya dan sekarang minimarket tsb sudah tutup. Anehnya, sekarang larangan tinggal larangan, jika tidak ada petugas, maka tengok aja, mulai jam 14.00 tempat tersebut sudah kembali dijejali mobil sebagai lahan parkir. Dan anehnya lagi, bagaikan melanggar Rambu-Rambu secara Berjamaah, tidak ada satu pun yang ditilang. Halo Dishub !
3. Simpan 3 Veteran – Kuripan
Semenjak saya datang ke kota ini 5 tahun lalu, jalan yang paling malas saya lalui adalah jalan Veteran. Jalan ini sempit dan pasti macet, terutama pada jam2 sibuk. Jika masih bisa lewat jalan lain, jangan deh berkendara mobil melalui simpang 3 ini. Dijamin macet dan semrawut. Mulai dari arah Kuripan, pas disimpang 3 pasar Kuripan dan hingga simpang sungai bilu, deket toko Andry. Kalo tidak percaya, silakan dinikmati kemacetan tersebut. Meski ada pos polisi di persimpangan tersebut, tapi kadang tidak ada yang piket.
4. Jalan Simpang Ulin
Jalan ini merupakan jalan tembus (tikus) dari A. Yani menuju Veteran atau sebaliknya. Menjadi semakin ramai ketika sebuah pusat perbelanjaan beroperasi di ujung jalan ini. Dan anehnya, jalan sempit ini menjadi primadona bagi pengguna mobil dan kendaraan lainnya untuk menghindari Jalan Kuripan. Ketika semua sudah bertujuan seperti itu, maka macetlah jalan ini, terutama pas di ujung jalan menuju Veteran. Rasanya jalan ini cocok dibuat satu arah alias one way. Tapi…. seharusnya bukan saya yang mikir, silakan bapak-bapak dari dinas terkait karena pian sabarataan lebih pinter.
5. Parkir di Sentra Antasari
Sebuah pasar yang sudah bergabung dengan sebuah pusat perbelanjaan Ramayana dan toko-toko lainnya. Lahan parkir yang bersebelahan dengan terminal angkot. Masuk bayar 2.000, pake tiket. Pada saat anda akan keluar, saat mobil anda mundur mau keluar, maka kalo pas “sial” akan didatangi orang yang berlagak sebagai tukang parkir (bisa preman, bisa tukang ojek, bahkan pernah anak kecil). Jadi kita harus bayar lagi dengan mereka. Pada saat keluar pintu parkir, TIDAK ADA PENGECEKAN lagi oleh petugas parkir, jadi semua orang bisa mengeluarkan mobil dari tempat parkir, gila.. Betapa rawannya akan pencurian pikir saya.
6. Parkir di Pasar Sudimampir.
Lagi-lagi soal parkir. Kali ini di areal ‘Texas’ Pasar Sudimampir. Tadi siang saya masuk areal Sudimampir mengendarai roda 4. Seperti biasa, setelah menyerahkan uang 2.000,- saya dikasih karcis parkir senilai 1.500,-. Tidak ada kata maaf, berelaan lah atau yang lain, petugas langsung ngeloyor pergi tanpa memikirkan keikhlasan uang kembalian. Setelah selesai, saya berniat keluar dari areal pasar. Baru saja memundurkan mobil, saya didatangi seorang petugas parkir. Saya kasih aja karcis parkir sebagai bukti saya mau keluar. Saya ditahannya, bayar 1.000,- katanya. Harus bayar lagikah, hardik saya. Iya pak, bayar 1.000,- kata si tukang parkir lagi. Kalo saya tidak bayar, maka mobil saya tidak akan bisa masuk lagi ke areal parkir Sudimampir, katanya sambil mengancam. Hebat sekali pikir saya, seolah lahan itu sudah milik mereka, bahkan bisa melarang orang masuk. Bukankah ada perda yang mengatur itu semua. Apakah ini karena lemahnya (baca ketidakberanian) Dinas Terkait dalam menangani masalah ini. Premanisme yang masih merajalela di negeri ini…..
Ini baru beberapa keANEHan yang saya lihat, nanti akan saya tambahkan lagi jika saya temukan lagi. Jika ada dari temen2 semua yang peduli dengan Banjarmasin, silakan tuliskan tambahan keanehan yang anda temukan.